FF : We are a Part (Chap 2)

we are a part 2

Judul : we are a part (chap 2)

Author : onfanllcouple

Genre : family, brothership, sad.

Main Cast : all exo

Rating : g

Length : sequel

Happy nice reading and don’t forget to comment^^ this my first sequel FF. I hope you guys enjoy reading…

Sorry telat banget… ada kesalahan pengiriman..

 

Brukkk…..

Namja berkulit gelap itu tersungkur begitu saja diaspal hitam yang begitu dingin. Sedangkan orang yang didalam mobil begitu ketakutan.

…………………………

 

Kris terduduk dikursi makan memandangi makanan yang berjajar didepannya saat ini. Matanya benar-benar kosong sedangkan pikirannya melayang entah kemana. Kali ini Kris benar-benar mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin. Menemui Einstein untuk menanyakan mesin waktu nya apa sudah ia temukan atau belum? Atau siapapun yang bisa membantunya saat ini. Ia sangat butuh mesin waktu untuk mengulang waktunya ke jam 7. Ia ingin sekali menepati janji nya untuk sekali saja.

“tuan muda mengapa anda tidak makan? setidaknya cobalah masakan tuan muda Lay.” Suho mendekat ke arah Kris

“jadi Lay benar-benar memasak semua ini sendirian ?” nada Kris meninggi sambil menatap Suho bulat-bulat.

“tentu saja tuan muda. Tuan muda Lay menyuruh saya menjadi saksinya. Dari jam 4 sore tadi tuan Lay mengusir semua koki dan pelayan dari dapur, mengurung dirinya disana untuk menghidangkan semua masakan yang berada di depan mata anda saat ini. Telunjuk kirinya bahkan terluka. Tapi tuan Lay tidak ingin diobati, dia bilang akan menunjukkannya pada tuan muda.” Suho menjelaskan semua yang diketahuinya pada Kris

“sepertinya aku harus mencarinya sendiri sekarang.” Kris segera berdiri dari tempatnya

“sebaiknya kalau saya diijinkan memberi saran, lebih baik sekarang tuan muda makan dulu. Tuan muda juga pasti belum makan malam, bukan? Terkadang kita harus memberinya waktu sendirian untuk berpikir dari pada memberikan semua yang diinginkannya. Saya yakin tuan muda Lay tidak segegabah itu, dia pasti akan pulang.” Suho mencoba menahan bahu tuan mudanya itu.

“hhhmm,,, “ Kris menghela nafasnya dan kembali duduk. Dengan rasa bersalah ia mencoba setiap makanan yang ada dihadapannya itu

“hehm,,, ternyata dongsaeng ku bisa memasak,” kata Kris sesudah menelan makanannya seraya tersenyum pahit “mengapa rasanya yang ini sedikit asin?” gumamnya sendiri lagi sambil tertawa kecut. Bagaimana rasanya tidak asin kalau makanannya kejatuhan air mata?

~~~~………………~~~~

 

Kini suasana ruang makan yang biasanya terasa hangat malah terasa begitu tegang. Ditambah cuaca diluar yang mendukung, langit berubah begitu gelap padahal masih sore. 2 orang namja sang pemilik rumah diam di tempatnya masing-masing.

“hyung!! kenapa kau menutupinya dari ku selama ini ?!!” Sehun berteriak sambil memukul meja makan, menghadap namja berkulit gelap itu yang sedang terduduk di kursinya

“memangnya apa yang kututupi dari mu ?” namja berkulit gelap itu berpura-pura tak mengerti dengan apa yang dikatakan dongsaengnya.

“HYUNG !!” teriak Sehun lagi, memelototti namja itu

“bukankah selama ini aku selalu bertanya pada mu? Aku bertanya ‘apa kau bahagia meskipun kita hidup sederhana?’ kau selalu mengangguk dan menjawab ‘asal aku bersama hyung.’ Tapi apa sekarang? Mengapa kau berubah?” mata namja tinggi itu bergetar, sepertinya bulir-bulir air itu akan keluar sebentar lagi

“tapi ini soal keluarga kita. Omma kita, ternyata aku punya seorang omma dan hyung bahkan tak pernah mengatakan apapun pada ku. Omma kita meninggal, hak kita diambil tapi hyung! hyung hanya ingin berdiam diri.” Sehun semakin menaikkan nadanya

“sudah ku bilang, uang dan balas dendam tidak akan berarti apa-apa. Lebih baik sederhana asal kita bahagia.”

“jadi hyung tetap akan tinggal ?”

“kalau kau mau pergi. Silahkan. Aku tidak akan melarang atau mencegah mu. Tapi pintu rumah ini akan selalu terbuka untuk mu, kapanpun itu aku akan selalu menunggu mu.”

“baiklah aku akan pergi! Kau akan menyesal hyung !!”

Sehun segera mengambil barang-barangnya dan menghempaskan pintu rumahnya keras.

. . . . . . . . . . . . . .

Ketika matanya terbuka, baru saja Sehun memimpikan pertengkarannya dengan hyungnya. Sekarang baginya sudah tidak ada kata terlambat lagi. Ia benar-benar merindukan hyungnya, malam itu juga ia pergi dari apartemennya, berlari ke rumahnya yang dulu, rumah yang sangat sederhana tapi ada kehangatan didalamnya.

Begitu sampai diketoknya pintu itu kuat-kuat. Tapi orang yang diharapkannya tak kunjung membukakan pintu untuknya. Pintunya dikunci. Ia panik luar biasa, apa yang sudah terjadi pada hyungnya itu sekarang ? itu yang terus dipikirkan nya. Entahlah hatinya seakan berkata kalau hyungnya itu sedang tidak baik-baik saja saat ini.

Ia berlari ke rumah ahjumma pemilik rumah mereka. Bahkan ahjumma sendiri kaget mendengar penjelasan Sehun.

“memang dia belum membayar uang sewa beberap bulan belakangan ini. Mungkin sekitar 3 bulan. Tapi aku bahkan tidak mengatakan apapun padanya, apa lagi mengusirnya. Kau tau betul kalian sudah ku anggap seperti adeul ku sendiri”

“lalu bagaimana sekarang, dimana hyung ku?”

Ahjumma dan Sehun berjalan menuju pagar rumah sang ahjumma. Ahjumma itu segera mengecek kotak suratnya. Ternyata sudah ada kunci rumah dan sepucuk surat kecil didalamnya.

,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,

Ahjumma maafkan aku sudah tidak membayar uang sewa.

Maafkan aku juga tidak pamit dulu.

Tapi aku berjanji akan segera mengirimkan uang sewa rumah kepada mu secepatnya dan akan ku tambahkan sedikit.

Kalau Sehun datang suruh saja ia menunggu di tempatnya, bilang padanya aku pasti akan datang menjemputnya nanti.

Jalgayeo,

Oh Jong In

,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,

 

Meskipun Kris sudah mengganti bajunya, minum susu bahkan ia pindah tidur ke kamar Lay. Tetap saja ia tidak bisa tidur, diotaknya hanya ada Lay. Dimana dongsaengnya itu sekarang ? Apa dia baik-baik saja? Apa dia tidur sekarang? Matanya terbuka lagi dan lagi. Meskipun Kris sudah memakai penutup mata yang tentu saja milik Lay. Tiba-tiba hpnya berbunyi, Kris segera mengambil hpnya berharap Lay yang menelpon. Benar saja Lay yang menelponnya.

“Hello Lay kau dimana ?”

“hiks,,,hiks,,,hiks,,,” hanya terdengar suara tangis sipenelpon

“kau diculik ? apa yang terjadi Lay? Bicaralah ”

“hyung,,, hiks,,,hiks,,,, aku takut.”

“kenapa? Ada yang mengganggu mu ?”

“hiks,,, hyung! Aku menabrak seseorang, dia bahkan tak sadarkan diri. Darahnya terus mengalir hyung,, hiks,,, aku bukan pembunuh,,,,” suara itu terdengar begitu bergetar

“sekarang tenang dulu. Beri tau hyung kau ada dimana?”

“entahlah hyung, disini begitu gelap dan sepi. Hanya ada beberapa lampu jalan, disini bahkan tidak ada cctv. Hiks,,hiks, mungkin ini bukan daerah Seoul lagi”

“baiklah sekarang kau masukkan dia ke mobil mu cek, apa dia masih hidup? Kau pasang GPS mu, agar bisa hyung lacak. Bawa dia kerumah sakit terdekat. Ingat ya kau jangan panik dulu. Tetap tenang hyung akan segera menyusul mu.”

………………………………….

Lay mengangkat namja berkulit gelap itu memasukkannya ke dalam mobil. Lay mendekatkan jari telunjuk nya ke hidung namja itu.

“untunglah dia masih hidup.” Desah Lay sedikit tenang. Dinyalakannnya GPSnya lalu menjalankan mobilnya lurus berusaha mengikuti GPS yang menunjukkan RS terdekat.

Begitu sampai RS, Lay segera membopong namja itu ke masuk ke dalam RS. Suster menyuruhnya untuk duduk menunggu. Lay sendiri bingung melihat Dokter begitu sibuk dengan alat-alatnya. Sepertinya keadaan namja yang ditabraknya begitu serius. Suster mendatanginya dan bertanya yang aneh-aneh menurutnya. Lay benar-benar bingung dan tak mengerti apa yang harus dilakukannya saat ini. Belum pernah ia mengalami situasi seperti ini sebelumnya.

Akhirnya Kris sampai di RS tersebut, ia segera mencari Lay. Begitu Kris sampai, Lay segera memeluk namja tinggi itu dan menangis dalam dekapannya.

“kau tidak apa-apa?” Tanya Kris sambil terus menepuk badan Lay. Tapi Lay terus saja menangis lalu Kris membulatkan matanya, kaget. Tiba-tiba dongsaengnya itu berhenti menangis dan kehilangan keseimbangan tubuhnya. Kris segera menahan Lay dengan tangan kirinya, ia menepuk-nepuk pipi dongsaengnya itu pelan.

“Lay! Lay!” panggil Kris tapi Lay tak menjawab. Terlihat wajah Lay sangat pucat, matanya tertutup rapat. Lalu Kris berteriak memanggil dokter dan suster yang bisa menolong dongsaengnya.

……………………………………………

 

Kris mengerjap-ngerjapkan matanya, perlahan matanya terbuka. Semenjak Lay pingsan lalu dirawat diruangan ini, Kris menunggui dongsaengnya itu, sampai tak sadar sudah tertidur ditepi ranjang. Kemarin malam dokter bilang Lay pingsan karena perutnya kosong, hampir saja ia terkena gelaja maag dan ia terlalu lelah menangis. Selain itu luka memarnya didahi sebelah kirinya yang belum pulih malah semakin membesar karena kecelakaan ini. Dokter menyakinkan Kris  kalau kondisi dongsaengnya itu akan baik-baik saja,  sehari dirawat juga sudah cukup. Asal dia menjaga pola makan Lay dengan benar dan merawat lukanya dengan baik.

Ketika Kris sudah sepenuhnya membuka mata, baru disadarinya kalau Lay sudah tidak ada diranjang. Kris segera mencari Lay kesekeliling ruangan juga kamar mandi tapi ia tidak juga menemukan dongsaengnya. “Apa Lay sudah sadar tentang pertengkaran kami semalam dan kembali marah pada ku?” Tanyanya dalam hati.

Kris mencari Lay keliling RS, mulai dari koridor, taman hingga ke parkiran. Di parkiran masih terpampang sebuah mobil sport ungu yang dikenalnya, setidaknya itu membuat Kris sedikit lega. Kris sudah bertanya pada suster dan dokter, orang-orang sekitar situ tapi tak ada yang tau dimana Lay berada.

Setelah itu Kris putuskan untuk mengunjungi namja semalam yang ditabrak Lay. Begitu masuk Kris langsung menemukan Lay sedang duduk disana.

“Lay! Hyung mencari mu kemana-mana. Kenapa kau disini?! Kau mel,,”

“ssutt,, hyung orang ini masih tidur.”  Potong Lay

“tapi kata dokter kau masih harus dirawat. Kenapa kau melepas infus mu? Katanya kau hampir kena gejala maag. Ayo makan dulu. Oh iya, apa kau pusing? Luka mu semakin membesar Lay.” Tanya Kris beruntutan seperti biasa tapi kali ini ia merendahkan nadanya

“hyung kenapa orang ini belum sadarkan diri juga dari tadi?”

“kata dokter kondisinya lumayan parah. Kepalanya terbentur kuat sekali dengan aspal. Dia bahkan mendapat beberapa jaitan di bagian belakang kepalanya. Aku tidak terlalu mengetahui banyak tentangnya. Aku lebih bertanya tentang mu dari pada dia semalam. Bagaimana kalau kita temui dokter saja sekarang.” Ajak Kris

……………………………

 

“benturan dikepalanya membuat dia melupakan ingatannya. Sepertinya pasien ini juga sedang mengalami tekanan batin yang cukup kuat. Apa kalian saudaranya ?” Tanya dokter

“iya dok, gamsahamnida atas penjelasannya tentang keadaan maknae kami.” Lay langsung bicara duluan sebelum Kris hendak menjawab. Lalu mereka keluar dari ruangan dokter dan Kris memaksa Lay untuk kembali ke ruangannya.

“kenapa kau bilang dia dongsaeng kita Lay?”

“tadi saat aku menungguinya dia terus saja mengigau tak jelas, sepertinya dia benar-benar menderita dengan kehidupannya. Persis seperti yang dikatakan dokter. Tapi saat aku menepuk-nepuk dadanya pelan, ia berhenti mengigau. Itu membuat ku sangat bahagia. Jadi aku ingin merawatnya hyung. Dia membuat ku benar-benar seperti seorang hyung”

“aku iri padanya, kau bahkan tak pernah melakukannya pada hyung.”

“hyung aku ingin dia menjadi dongsaeng ku, hyung bisa membuatnya kan! Di tas ini semua identitasnya, hyung bisa mengurusnya kan!” kata Lay sembari memberi tas yang dibawa namja itu kemarin malam

“maksud mu Lay? Dia anak manusia Lay!” Kris menaikan nadanya sembari menerima tas dari Lay

“jadi hyung tak ingin mengabulkan keinginan ku. Kalau begitu aku tidak akan makan. Biar saja aku mati!” Lay menutupi dirinya dengan selimut

“tapi dia bukan anak anjing atau anak kucing Lay. Dia manusia. Bahkan Julia, anak singa albino yang susah payah ku rawatpun berhasil mati ditangan mu. Kau yakin mau merawatnya ?”

“aku ingin punya dongsaeng yang bisa menemani ku. Jadi hyung tak perlu pulang lagi ke rumah!”

“kau jahat sekali Lay. Masa aku harus berbeda rumah dengan dongsaeng ku sendiri?”

“kalau begitu hyung harus mengikuti keinginan ku!” Lay membuka selimutnya dan melotot kearah Kris

“baiklah aku akan melakukan apa yang kau minta. Tapi kau harus makan.” Kris akhirnya menyerah dan membuat Lay tersenyum manis sekali dengan lesung pipitnya. Krispun mencubit gemas pipi dongsaengnya.

“hyung aku bukan dongsaeng kecil mu lagi! Sekarang kau punya dongsaeng yang lebih kecil dari ku.”

“tapikan dongsaeng kandung ku ya, hanya kau Lay.”

“oh iya, bagaimana dengan namanya? Namanya, nama korea sedangkan kita nama internasional. Kita tidak mungkin menggunakan nama koreanya nanti dia curiga, ‘jangan-jangan aku bukan bagian dari keluarga ini’ pikirnya nanti”

“awalannya K saja, dari nama ku”

“kalau begitu huruf keduanya dari huruf kedua nama ku A”

“huruf ketiganya dari nama ku lagi I”

“ya sudah namanya KAI tiga huruf seperti nama ku.”

Kris tersenyum lalu mengangkat sendok yang penuh nasi kearah Lay.

……………………………

 

Siangnya setelah ia selesai makan, ia segera berlari ke ruang inap namja berkulit hitam itu. Ia masuk dan segera duduk disamping ranjang namja yang sudah dinamainya Kai. Lay tersenyum senang melihat namja itu mulai membuka matanya.

“kau haus ?” Tanya Lay. Namja itu berusaha duduk dan memegang kepalanya yang masih terasa pusing.

“kau siapa?” Tanya namja itu lagi

“aku hyung mu”

“hyung?! aku punya hyung?” namja itu mengerutkan dahinya

“iya aku Lay hyung mu, tapi kita masih punya satu hyung lagi Kris.”

“kenapa aku tidak bisa mengingatnya? kenapa aku di rumah sakit sekarang?”

“nama mu Kai. Kau habis kecelakaan semalam, aku membantu mu tapi aku juga ikut terluka jadinya. Dokter bilang kau hilang ingatan, tenang saja hyung akan membantu mu untuk mengingat semuanya.” Lay menyipitkan matanya tersenyum kearah Kai

“ahkk,,,” jerit namja itu sambil terus menekan kepalanya lalu kembali pingsan.

…………………………………..

 

Sekarang semuanya benar-benar terlambat bagi Sehun. Ia menyesal sekali telah menentang hyungnya. Andai saja ia bisa tau lebih awal kalau jadinya seperti ini. Ia akan lebih memilih tinggal bersama hyungnya dari pada mengikuti Luhan sang kepala pelayan keluarga Choi. Sehun hanya mengurung diri di kamarnya. Ia bahkan tak pergi kuliah. Setiap kali Luhan berkunjung, Sehun pasti didalam kamar tak ingin menemuinya.

Luhan pusing tak mengerti bagaimana caranya mengatasi Sehun jika sudah seperti ini. Tiap kali Luhan bertanya apa yang terjadi? Sehun malah masuk kedalam kamarnya dan menatap Luhan benci. Seperti tatapan menyalahkan. Akhirnya Luhan mencari tau sendiri apa yang telah terjadi?

Luhan pergi ke rumah Sehun yang dulu dan bertanya pada orang sekitar, dimana hyungnya Sehun? Mereka menjelaskan kalau beberapa hari lalu hyungnya Sehun pergi dari rumahnya. Sepertinya ia pindah tengah malam dan tak satupun yang mengetahuinya pindah kemana. Luhanpun menyadari bahwa semua ini salahnya, lalu dia memutuskan untuk mencari seseorang yang dekat dengan Sehun.

Luhan akhirnya sampai didepan sebuah rumah. Lalu diketuknya pintu rumah itu. Datanglah seorang namja bermata yang besar dan bulat, matanya itu seakan-akan ingin menelan Luhan hidup-hidup. Luhan memang tak mengenali orang itu dan begitu juga sebaliknya. Tapi begitu Luhan menceritakan Sehun padanya. Namja itu langsung mau ikut bersama Luhan ke apartemen Sehun. Sebelum pergi namja itu menyiapkan sebuah makanan lalu memasukkannya ke tempat bekal dan membawanya bersamanya.

……………………..

 

“sehunnie..” panggil  namja bermata besar itu sambil mengetuk pintu kamar Sehun. Seketika Sehun berhenti menangis, kaget mendengar suara yang begitu familiar baginya. Sehun berlari membuka pintunya lalu memeluk namja itu erat-erat.

“Kyungsoo hyung,,” kata Sehun dalam dekapan namja itu

“sudah tenanglah Sehunnie, aku percaya kalau Jongin pasti akan menepati janjinya. Aku tau betul sifat chingu ku itu.” Namja yang bernama lengkap Do Kyungsoo itu mengelus badan Sehun lembut

“entahlah hati ku seperti berkata lain hyung. Apa hyung tau dimana Jongin hyung berada sekarang? Hiks,,, hiks,,”

“aku sendiri tak tau Sehunnie. Aku baru saja mendengar semuanya dari Luhan ahjussi. Pantas beberapa hari ini Jongin tak pernah menelpon ku atau sekedar berkunjung ke rumah ku.”

“hyung apa yang harus ku lakukan sekarang?”

“sudahlah kau harus tetap melanjutkan hidup mu. Sambil menunggu Jongin, kau harus menyelesaikan kuliah mu. Belum lagi kau tidak boleh menyia-nyiakan pengorbanan mu. Kau harus melanjutkan rencana itu. Sebenarnya Jongin selalu bercerita kalau dia menyesal karena tidak ikut bersama mu. Aku yakin sekali dia pasti akan secepatnya menemui mu.”

“sungguh ??” Sehun menatap Kyungsoo lekat-lekat, lalu namja bermata bulat itu menganggukkan kepalanya.

“tentu saja. Ku dengar kau belum makan seharian ini. bagaimana kalau kau makan masakan ku ?” namja itu mengeluarkan tempat bekalnya

………………………………

 

“Kai…” sambut Kris sambil memeluk Kai.

“ah,, kau Kris hyung..” tebak Kai

“maafkan hyung ya, selama seminggu ini tak bisa menjenguk mu. Sebenarnya hyung datang tapi kau sudah tidur. Aku hanya bisa berkunjung malam.” Kris menggosok pelan rambut Kai

“gwenchana hyung” Kai memberikan senyumnya pada Kris

“hei,, kalian melupakan ku!” teriak Lay dari belakang sambil berjalan menghampiri mereka

“tidak kok, aku tidak melupakan Lay hyung.” Kai menolehkan kepalanya ke arah Lay

“baguslah kalau begitu. Kau tidak boleh melupakan hyung yang sudah merawat mu selama ini!”

“gomaweo hyung^^”

Lay segera menarik Kai meninggalkan Kris, membawa dongsaengnya itu ke kamarnya. Kris hanya memandangi mereka dari belakang. Entahlah Kris merasa ia benar-benar merindukan Kai seakan-akan Kai adalah dongsaengnya yang telah lama hilang dan kini telah kembali padanya.

…………………………………..

 

Jarum jam yang pendek sudah menunjuk ke angka 12 jarum panjangnya mendekati angka 2. Entah kenapa Kai merasa gelisah dan tak bisa tidur. Pelan-pelan ia membuka selimutnya, lalu dilihatnya Lay masih tertidur nyenyak disampingnya. Sekarang matanya menuju pintu kamar. Pelan-pelan ia berjalan menuju pintu, jangan sampai hyungnya itu bangun pikirnya. Ditariknya kenop pintu pelan sekali sampai tak mengeluarkan bunyi. Begitu ia keluar dari kamar ia segera menuju sebuah kamar yang lain. Ia membuka pintu kamar itu sedikit yang penting ada celah untuknya agar dapat melihat, apa yang sedang dilakukan si pemilik kamar? Setelah itu segera berlari tapi tanpa suara menuju dapur sambil sesekali menilik sekitarnya. Jangan sampai ada yang bangun! Kira-kira 20 menit berlalu ia membawa secangkir kopi menuju kamar yang diintipnya tadi.

“kai ada apa ?” Tanya Kris, membuat Kai membulatkan matanya kaget, untung cangkirnya dibawanya tidak terjatuh. Kai membawa cangkirnya perlahan berjalan kearah meja.

“bagaimana hyung bisa tau?! Padahalkan aku ingin memberi sebuah kejutan.” Kai memanyunkan bibirnya kedepan sembari meletakkan kopi buatannya.

“sini, duduk disini.” Kris menepuk-nepuk bagian sofa disampingnya lalu matanya kearah Kai menyuruhnya duduk bersama di sofa. Kai duduk disamping Kris lalu Kris meletakkan kertas-kertasnya keatas meja yang disampingnya. Lalu Kris merangkul dongsaengnya itu meletakkan kepala dongsaengnya itu dipangkuannya.

“bagaimana bisa aku tidak mengetahui kalau maknae ku ini mengintip?” Ejek Kris sambil mencubit pelan hidung Kai

“hyung, kau masih bekerja sampai larut malam seperti ini. Lalu kapan kau akan tidur ?”

“sebentar lagi, aku tadinya sudah mau tidur tapi aku menunggu maknae ku dulu. Ternyata maknae ku membuatkan ku kopi.”

“kalau begitu jangan minum lagi kopinya.”

“setidaknya aku harus mencicipi kopi buatan maknae ku dulu. Apa kau bermimpi buruk sampai kau tidak bisa tidur.”

“tidak, hanya saja. Apakah Lay hyung selalu begitu pada ku ?”

“tentu saja, dia sangat menyayangi mu dan aku juga. Dia hanya ingin melindungi mu sama seperti hyung.”

“apa aku benar-benar sekamar dengan Lay hyung sebelumnya?”

“hmm,,, tidak juga sich,,, terkadang kau memakai kamar hyung saat hyung pergi ke luar kota atau dengan kata lain ketika hyung tidak bisa pulang ke rumah.”

“bagaimana kalau kita tidur sekarang?” pujuk Kai

“baiklah kau ke tempat tidur duluan, hyung akan memasukkan berkas-berkas ini dulu.” Kris memasukkan berkas-berkasnya ke dalam tas lalu mencicipi kopi sedikit. Setelah itu ia segera naik ke ranjangnya, menepuk-nepuk dada Kai pelan dan seirama. Sampai akhirnya mereka tertidur lelap. Perasaan ini lagi, Kris benar-benar tak mengerti mengapa ia bisa sehangat ini pada Kai. Dia begitu senang sekali bisa mempunyai dongsaeng seperti Kai. Sebuah rasa egois mulai timbul dalam hatinya. Apakah salah jika ia ingin Kai tidak akan mengingat identitasnya lagi untuk selamanya ?

………………………….

 

“Kai..” panggil Lay masih menutup matanya sambil meraba-raba ranjangnya yang kosong disebelahnya. Seketika mata itu terbuka lebar. Dimana dongsaengnya itu sekarang pikirnya? Ia segera keluar dari kamarnya dan berkeliling mencari Kai. Lalu ia masuk ke dalam kamar hyungnya. Akhirnya ditemukannya dongsaengnya itu masih tertidur pulas diranjang hyungnya.

“Kai.. ireona !” Lay menepuk-nepuk Kai, berusaha membangunkan dongsaengnya itu. Kai terbangun lalu menguap, ia segera duduk dan matanya segera mencari Kris.

“dimana Kris hyung, hyung ?” Tanyanya masih setengah sadar.

“jam segini Kris hyung sudah berada di kantor. Sudahlah ayo kita sarapan sekarang, kau masih harus minum obat.” Lay menarik lengan dongsaengnya itu.

“seharusnya aku bisa bangun lebih cepat tadi. Jadi aku bisa mengantar Kris hyung ke depan.” Sesal Kai.

“kenapa kau bisa tidur disini ?” Tanya Lay.

“hmm,,, aku juga ingin tidur bersama Kris hyung. Apa tidak boleh hyung ?”

“tentu saja boleh, tapi kau seharusnya bilang dulu pada ku. Sudahlah cepat ke kamar mandi sekarang. Aku akan menunggu di meja makan.” Lay segera berlari ke dapur duluan.

………………………………………

 

 

 

 

 

 

Tbc………………………

 

Thanks a lot for reading,

Keep waiting until this ff end, okay!!

Sorry telat banget nge-postnya..

Aku udah mau ujian jadi sibuk banget nih,,,

Tapi setelah aku selesaikan chap 10 dan 11 ..

Nanti aku bakal cepet publish,, nya hehe..

=_=

Sekali lagi sorry,,

Udah bikin lama nunggu,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s