FF We are a part (chap 1)

part 1

Judul : we are a part (chap 1)

Author : onfanllcouple

Genre : family, brothership.

Main Cast : all exo

Felline Horvejkul (OC)

Rating : g

Length : sequel

Happy nice reading and don’t forget to comment^^

Tenang dibaca pelan-pelan.. kalian ga salah buka kok.. rada ga nyambung sama teasernya memang..

. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

 

Oh Sehun. Namja tinggi berkulit putih susu itu kini sedang berjalan pelan-pelan, menyelinap kearah kotak pos sebuah rumah kecil berwarna hijau. Setelah itu ia kembali berjalan mengendap-endap, bersembunyi di sebuah gang kecil masih didekat rumah kecil itu.

Seperempat jam berlalu seorang namja tinggi berkulit gelap keluar dari pintu rumah kecil itu. Seperti biasa ia berjalan menuju kotak posnya dan menemukan sebuah amplop coklat. Wajahnya yang sudah lusuh semakin lusuh ketika ia membuka amplop itu. Sudah ia duga amplop itu berisi uang berjumlah besar sama seperti bulan-bulan sebelumnya. Namja itu memasukkan amplopnya kedalam tas. Ia lalu berjalan sambil menggemgam erat kedua tali ransel yang menggantung dike-2 lengannya.

Pelan-pelan dan hati-hati, Oh Sehun. Ia mengikuti langkah-langkah namja berkulit gelap itu. Ada rasa rindu yang teramat besar dalam hatinya untuk berlari kembali memeluk hyungnya itu. Tapi ia selalu menepis semua perasaannya sendiri. Baginya langkah yang diambilnya sekarang adalah langkah terbaik untuknya dan untuk hyungnya. Meskipun kini ia terpisah dengan hyungnya, ia tetap berusaha menengok hyungnya setidaknya sekali dalam sebulan sembari memberikan sejumlah uang kedalam kotak pos rumah mereka. Setelah itu ia akan menunggu hyungnya keluar, melihat bagaimana keadaannya. Semakin lama ia semakin merasa bersalah karena hyungnya selalu terlihat kurang sehat. Makanya itu ia menambahkan jumlah uangnya tiap bulan. Padahal ia tidak tau saja apa dikemanakan uang itu oleh hyungnya.

~~~~………………~~~~

 

Hari ini memang jadwalnya namja berkulit gelap itu mengunjungi panti asuhan. Maka dari itu pagi ini semua anak-anak sudah siap di halaman menyambut kedatangannya, termasuk pemilik panti tersebut Kim Jongdae. Seperti biasa namja itu menyerahkan amplop coklat beserta seluruh isinya pada Jongdae dan menjadi sukarelawan membantu merawat anak-anak seharian.

Jongdae yang memang sudah menjadi chingunya semenjak SMA itu sangat khawatir melihat namja itu yang terlihat semakin tak terurus. Ia sudah berusaha memujuk namja itu untuk tinggal bersama sambil mengurus panti tapi namja itu selalu menolak. Namja itu takut kalau ia meninggalkan rumah dan suatu saat dongsaengnya kembali, ia tidak ada dirumah menyambutnya.

~~~~………………~~~~

 

Disebuah kamar yang cukup besar, bahkan didalamnya ada sebuah grand piano yang lumayan memakan tempat. Kalau beralih kesudut kanan ada sebuah gitar yang tergantung didingding, sedangkan dingding kiri ruangannya ditempel kaca besar agar sipemilik kamar dapat menari sambil melihat gerakannya. Sebuah foto 2 orang namja saling merangkul yang cukup besar menempel tepat diatas ranjang sinamja berlesung pipit itu yang kini sedang tidur dirangjangnya. Warna kamarnya ungu bercampur biru, dilangit-langit kamarnya ada tempelan gambar bintang-bintang yang hanya menyala disaat gelap, sehingga setiap malam namja itu tidak pernah takut lagi mematikan lampunya.

Lalu pintu  kamar itu terbuka pelan. Masuklah seorang namja nan tinggi kedalamnya, namja itu berjalan mendekati ranjang sipemilik kamar. Dilihatnya dongsaengnya tertidur, ia hanya tersenyum sambil mengelus rambut dongsaengnya itu.

“maafkan hyung mu ini Lay,” bisik namja nan tinggi itu. “seharusnya hyung bisa menemani mu hari ini. Aku memang gagal menggantikan posisi orangtua kita, maafkan aku karena menjadi hyung yang jahat untuk mu. Aku hanya ingin kau bebas dan tak perlu memikirkan perusahaan. Biar aku saja yang menanggungnya seorang diri. Ku kira aku bisa mengurus perusahaan dan mengurus mu tapi ternyata aku salah. Maafkan aku.” bisik namja itu lagi

“sepertinya kau menyukai hadiah yang ku berikan, kudengar sekarang setiap malam kau selalu mematikan lampu kamar mu, memang indah bukan?! seperti memandang langit diluar.” Gumamnya sendiri sambil memadangi karyanya berusah bicara dengan dongsaengnya yang kini sedang tertidur. Akhirnya namja itu membaringkan tubuhnya diranjang itu lalu menepuk-nepuk lengan dongsaengnya sampai akhirnya dia tertidur disitu. Ternyata dongsaengnya itu dari tadi belum sepenuhnya tertidur, ia berbalik menghadap hyungnya yang tengah tertidur pulas.

“gwenchana Kris hyung, gomaweo^^ aku memang menyukai hadiah mu, kini aku sudah tidak takut gelap lagi.” Bisiknya pelan membuat hyungnya itu tersenyum padahal Kris sudah tertidur lelap.

~~~~………………~~~~

 

Boston, USA

Seorang namja tampan dengan postur tubuhnya yang cukup pendek untuk ukuran seorang namja. Ia memiliki kulit yang putih bersih dan matanya sipit, benar-benar berbeda dari para namja Amerika lainnya. Tapi bukan berarti ia kalah tampan! Namja tampan nan manis itu kini sedang menunggu seseorang membukakan pagar sebuah rumah mewah yang ia pencet belnya sedari tadi. Beberapa menit kemudian terdengar suara 2 orang sedang kejar-kejaran menuju pagar.

“Hi Michael!”

Akhirnya seorang yeoja cantik yang sudah sangat dikenal namja itu membukakanya pagar lalu menyapanya dengan senyuman membuat namja itu salah tingkah.

“oh,,”

Namja itu atau yang tak lain adalah Michael, ia memberikan setangkai tulip berwarna ungu yang sudah lama digenggamnya pada yeoja itu.

“thank you^^”

Yeoja itu menerima bunganya dengan senang hati. Tak sampai 2 menit, seorang yeoja yang lebih muda datang berlari kearah mereka.

“mama! What are you doing?!!”

Yeoja yang lebih muda itu langsung merebut bunga yang digenggam mamanya.

“hei.. why you take my flower? That’s from my Michael.”

“stop it! He is my man not yours! I will tell this to Ph̀x (papa) later! Just looking forward!!”

“hmmpphh.. he liker me than you!!”

Mama dari yeoja itu pergi meninggalkan mereka dengan wajah kesal. Sekarang giliran namja itu yang dicubit oleh si yeoja.

“why you always playful with my mama. Did you really like her than me?”

“no, my baby Felline. I just have you in my heart.”

~~~~………………~~~~

 

BRakk

“ouh,,,,” desah Lay membulatkan bibirnya meniup angin kedepan

Baru saja Lay menaiki mobil baru yang dipesannya dari Itali. Baru mobil itu sampai tadi pagi tapi sungguh disayangkan nasibnya. Mobil sport mewah limited edition special summer itu sepertinya akan rusak dalam satu hari, begitu sampai ditangan Lay. Sungguh disayangkan mobil itu datang disaat emosi Lay sedang menggebu-gebu. Selalu seperti biasa awalnya dia akan berkata “aku akan mencoba mobil ku dulu^^” kata Lay sambil tersenyum manis dengan lesung pipitnya. Setelah itu ia akan membawa mobilnya berkeliling kota dan menabrak sesuatu disana. Itu baru satu kali, yang lainnya dia habiskan di sirkuit, menabrak fasilitas umum, menghancurkan taman sekolahnya dan banyak lagi saat di Kanada.

Ternyata itu sama saja saat di Seoul, meskipun ini mobil pertamanya di Seoul, tetap saja saat kekesalannya muncul semuanya sama tak ada pengeculian. Mobil itu juga harus menjadi korban sama seperti mobil lainnya.

Kepala pelayan Suho sudah terlalu sering melihat pemandangan seperti itu sebelumnya, tapi kali ini dia benar-benar terkejut setengah mati. Bagaimana tidak ?! kali ini Lay mencoba mobil barunya itu dihalaman rumahnya. Membuat Suho terus-menerus memegangi dadanya yang naik-turun. Baru saja tuan mudanya itu menabrak pot kesayangannya yang dia pesan dari Itali, yang datang bersama mobil itu tadi pagi.

Brakkkk !!!

Lay menabrak air mancur lalu ia memundurkan lagi mobilnya dan memutar stir kearah lain. Entah sudah berapa kali Suho memohon pada tuan mudanya itu untuk berhenti tapi Lay tak pernah menghiraukannya. Semakin ditentang semakin seru baginya.

“wauw,,, mengapa aku baru melakukannya sekarang? Harusnya aku juga bermain dihalaman rumah saat di Kanada. Disanakan areanya lebih luas, pasti lebih menyenangkan.”

Drrrett,,,,, drreettt

Mobilnya mulai tersendat karena harus melalui tanaman-tanaman yang lumayan tinggi.

“wah !! mobil ini jelek Suho!!” teriak Lay.

Selalu begitu, Lay tidak pernah berlaku sopan pada orang tua itu, yang selalu menjaganya dari kecil. Padahal Suho selalu berbuat yang baik pada tuan mudanya itu, selalu sabar menghadapinya tapi tuan mudanya tak pernah sekalipun menghiraukannya.

“minggir !!” teriak Lay dari dalam mobilnya. Tapi orang-orang bersetelan hitam rapi itu tetap tidak mau hilang dari pandangan Lay.

“baiklah kalau kalian tidak mau minggir kalian sendiri yang akan menerima akibatnya !”  Lay tersenyum sambil menggas mobilnya kuat-kuat. Lay sempat tertawa saat melihat kumpulan pria itu mulai panik.

Lay memanyunkan bibirnya kedepan mengejek orang-orang itu  “goo…d by,”

“CEPAT PERGI DARI SITU !!!” sebelum Lay menyelesaikan perkataannya Suho langsung memotong dan menyuruh anak buahnya itu menghindar

Swiiiiing….

Lay segera membanting stirnya ke kiri, meski dia anak yang bandel dia masih belum punya keinginan untuk membunuh orang.

Brukkk…

Akhirnya mobil itu berhenti juga setelah mobilnya membentur salah satu dingding yang kokoh. Benturan yang cukup keras itu membuat Lay terpental kedepan, untung masih ada stir yang menahannya sekaligus membenturkan kepalanya, setidaknya itu cukup membuatnya diam sementara.

 

Begitu mendengar dongsaengnya itu tak sadarkan diri, buru-buru Kris meninggalkan semua pekerjaannya dan pulang ke rumah, yang terpenting baginya saat ini adalah kondisi Lay dongsaeng satu-satunya itu.

Sesampainya di rumah Kris segera keluar dari mobilnya dan berlari ke kamar Lay. Dilihat dongsaengnya itu pucat dan segera ia duduk disamping ranjang dongsaengnya. Sebelum Kris bicara baru saja ia menggerakkan kepalanya kearah Suho. Tapi Suho langsung mengerti dan minta maaf pada tuan mudanya.

“maafkan saya tuan muda, sampai sekarang saya tidak bisa mendidik dan menjaga tuan muda Lay saat tuan muda tidak ada.” Kata Suho gugup

“aku mengerti. Ahjussi, kau tidak perlu takut seperti itu, ini bukan pertama kalinya Lay melakukannya bukan ? aku sendiri hyungnya tidak bisa apa lagi ahjussi. Jelaskan saja apa yang terjadi tadi.” Kris tersenyum kearah Suho

“tadi tuan muda Lay mencoba mobil barunya di halaman rumah, tuan. Lalu terakhir tuan muda Lay menabrak dingding. Ia terpental kedepan tapi terganjal oleh stir mobil, tapi sayangnya kepala tuan muda Lay terbentur juga ke stir mobil.”

“lalu apa kata dokter? Apa ada sesuatu yang buruk terjadi pada tubuhnya sampai dia tak sadarkan diri ?” Tanya Kris panik sambil melotot ke arah Suho, menunggu jawabannya.

“hyung,,” panggil Lay lirih, Kris segera memalingkan kepalanya ke arah dongsaengnya itu

“kau baik-baik saja? Ada sesuatu yang sakit? Bagaimana perasaan mu saat ini? ada yang kau inginkan? Apa kau lapar atau ingin minum?” Tanya Kris beruntutan

“disini sakit,,” keluh Lay lemah sambil meraba luka kecil di dahinya sebelah kanan, padahal lukanya sangat kecil.

“kau ingin aku meniupnya ?” Tanya Kris lembut dan Lay menganggukkan kepalanya. Krispun meniup luka Lay pelan-pelan.

Sungguh Suho tak pernah mengerti jalan pikiran Kris. Meskipun Lay sudah melakukan sesuatu yang begitu buruk, ulah nakalnya tak ada henti-hentinya padahal mengingat umurnya yang bukan remaja lagi. Tetap saja Kris, tuan mudanya itu selalu menerima perilaku dongsaengnya dengan sabar, tak pernah dilihatnya tuan muda yang sangat dihargainya itu memarahi dongsengnya walau hanya sekedar menaikkan nadanya saat bicara. Lebih tidak masuk akal lagi adalah Kris masih saja memanjakan Lay sampai saat ini, semua keinginan tuan muda nan manja itu harus dipenuhi.

Menurut Suho sudah sepantasnya Lay membantu Kris mengurus perusahaan karena Lay memang sudah mampu. Tapi Kris selalu melepaskan Lay, membuat anak itu merasakan kebebasan yang tak pernah lagi dimilikkinya.

“Hyung mengapa kau langsung menghilang dari kamar tadi pagi?” Tanya Lay sambil memanyunkan bibirnya

“kau taukan hyung sibuk.” Jawab Kris pelan sambil terus meniup luka Lay

“oh iya apa kau senang tinggal di Seoul?” Tanya Kris sambil menyunggingkan senyumnya

“hmm,,,” Lay menghela nafasnya “hyung tau alasan ku meminta pindah kesini ?” Tanya namja berlesung pipit itu balik

“kaukan ingin mengenal negara omma ?” Kris menjawab lembut

“sebenarnya itu karena aku ingin hyung punya lebih banyak waktu untukku, tapi ternyata aku salah. Aku justru membuat hyung semakin lelah karena harus bolak-balik Kanada-Seoul.” Lay menyipitkan matanya sedih dan menatapi langi-langit kamarnya

“apa kau sudah mempunyai chingu disini ?” tanya Kris antusias

“hyung pikir aku membutuhkan seorang chingu?! yang kubutuhkan hanya seorang hyung yang bisa menepati janjinya pada ku untuk menemani ku seharian penuh !” Lay menatap Kris dengan tatapan kesal untuk beberapa detik kemudian membalikkan badannya, memunggungi Kris.

“sorry Lay, tapi hari ini banyak tugas yang benar-benar penting, yang harus hyung lakukan.” Kris mencoba membujuk dongsaengnya itu. Tapi Lay tetap memunggungi hyungnya, saat ini matanya sudah mulai berair.

“hyung tau, hyung salah Lay.” pujuk Kris lagi membuat tangis Lay semakin menjadi-jadi.

“sudahlah tak perlu urusi aku lagi. Bukankah hyung harus kembali bekerja.” Terdengar suara Lay begitu serak

“aku akan pergi setelah melihat mu makan.” Tawar Kris

“aku tidak lapar saat ini!” tegas Lay

“tapi bagaimana luka mu mau sembuh kalau kau tidak mau makan.” Kris mencoba memberi penjelasan pada dongsaengnya.

“hyung!! sudah pergilah!” Lay berteriak tetap tidak mau memalingkan wajahnya

“bagaimana kalau besok kita makan malam? Kau mau tidak? hyung janji kali ini hyung akan datang” Kris harap tawarannya kali ini berhasil.

“you promise ?!”

“yeah I promise, tomorrow we will have a dinner.”

“ok. I will eat now.”

Kris mengelus rambut dongsaengnya pelan lalu keluar dari kamar itu dan kembali melanjutkan pekerjaannya.

………………………..

 

USA, Boston

Michael masuk kedalam apartemennya dan berjalan menuju kamar diam-diam. Sayangnya saat ia hendak membuka pintu kamarnya. Suara seorang namja menghentikannya.

“hmm,,, Micha”

“ya, I know!” potong Michael sebelum namja tinggi yang sedang duduk di sofa ruang tv sempat melanjutkan ucapannya.

“hyung, you know that I was sick and you just leave me because that girl. Ouh,, did she more important than me?”

“you know what the answer!”

“you must be love her so much.”

…………………………

 

Keesokan malamnya dirumah yang sangat mewah, dimeja makannya sudah tersedia berbagai macam makanan. Dan yang paling menakjubkan, malam ini Lay sendiri yang memasak dan menghidangkan semua makanan tersebut. Mulai dari jam 4 sore Lay sudah berkutat di dapur. Semua koki diusirnya keluar. Di kuncinya dapur rapat-rapat dari dalam.

Suho sang kepala pelayan hanya bisa menguping dari balik pintu, dan berusaha mengintip dari celah gagang pintu. Baru pertama kali dilihatnya tuan mudanya itu masuk ke dapur.

Trrang…….

Byurrr….

Cesssss…..

Ahh…..

awWWW…

Suho kembali mengelus-elus dadanya disetiap bunyi yang didengarnya dari balik pintu itu. Berharap tuan mudanya baik-baik saja. Tapi hanya mendengar saja sudah membuat Suho ngeri. Apakah ada minyak yang tumpah atau ada air yang tumpah ke dalam minyak panas? Tangannya terkena pisau? Tuan muda bisa mencuci piring?

Suho hanya bisa membayangkan tanpa bisa berbuat apapun. Ia hanya bisa menunggu diluar dan berdoa. Berharap tuan mudanya segera keluar dari dapur. Akhirnya tepat jam 7 malam, Lay keluar juga dari dapur lalu menghidangkan masakannya satu per satu ke meja makan.

Suho segera mengecek dapur begitu Lay keluar. Suho sungguh takjub melihat dapur sama keadaannya seperti sebelumnya, bersih dan rapih. Sekarang satu lagi yang hampir saja dilupakannya.

“tuan muda ?” gumamnya lalu segera menuju kamar tuan mudanya itu dan menunggunya didepan pintu kamarnya.

“ada apa ?” Tanya Lay begitu ia melihat Suho berada didepan pintu kamarnya.

“bagaimana keadaan tuan? apa tuan baik-baik saja? Tidak ada yang terluka?” Tanya Suho sembari memperhatikan tubuh tuannya dari ujung kaki sampai ujung rambut. Lay hanya memandang Suho aneh.

“apa tuan tidak kesakitan? Sebaiknya ini segera diplester, mungkin ini harus diperiksa siapa tau lukanya dalam.” Tanya Suho sambil menunjuk jari telunjuk kiri Lay.

“oh,,,ini tidak apa-apa. Aku ingin Kris hyung melihatnya. Kau harus jadi saksi saat ku bilang nanti pada hyung aku yang memasak! Ok !” lay segera menuruni anak tangga menuju lantai 1, ke ruang makan. Menunggu hyungnya datang dengan sabar.

…………………………………………

 

Malam yang begitu sepi di rumah yang sederhana itu. Namja berkulit gelap yang tinggal didalamnya kini wajahnya sangat pucat ia kedinginan, ia sangat merindukan dongsaengnya yang akan selalu berada disampingnya seperti biasa dan membawakannya selimut. Tapi malam ini tidak ada yang seperti itu lagi.

Akhirnya namja itu menyerah juga, ia sudah tak sanggup untuk hidup sendiri lagi. Rumah sederhana yang disewanya juga sudah beberapa bulan ini tidak dibayarnya. Bagaimana bisa ia membayarnya kalau setiap uang yang dimilikinya selalu diberikannya untuk orang lain.

Namja berkulit hitam itu memutuskan untuk pergi dari rumah itu, meski si pemilik rumah tak menyuruhnya pindah. Mana mungkin ahjumma itu tega menyuruh namja itu pergi. Namja tinggi, tampan dan berkulit gelap itu baik padanya, selama ini namja itu selalu memperlakukan ahjumma itu bak ommanya sendiri. Kalau ia memasak lebih ia akan mengantarkannya, kalau bertemu dijalan ia akan membantu ahjumma itu membawakan barangnya, dan masih banyak lagi yang dilakukan namja berkulit gelap itu pada si ahjumma.

Malam ini keputusan si namja berkulit gelap itu sudah bulat. Ia akan pergi ke luar kota menuju sebuah rumah. Diambilnya sebuah ransel, dimasukkannya ijazah yang memiliki tanda special itu. Ijazahnya memang special karena namja itu selalu berhasil melompat kelas. Semua ijazahnya hasil akselerasi. Dimasukkannya kartu identitasnya.

Terakhir dimasukkannya sebuah foto, didalam foto itu terlihat ia sedang tersenyum bahagia sambil merangkul seorang namja berkulit putih disampingnya, sedangkan namja berkulit putih itu menunjuk bibir si namja berkulit gelap dengan telunjuk kirinya. Mereka terlihat begitu bahagia difoto itu, mungkin foto itu belum begitu lama diambilnya. Tapi semuanya itu tinggal gambar sekarang.

Anehnya namja itu bahkan tidak membawa sehelaipun bajunya. Ia keluar lalu mengunci pintunya. Dilewatinya rumah ahjumma pemilik rumah, ia masukkan kunci rumah beserta sebuah rumah kedalam kotak pos milik ahjumma itu.

“annyeong,,” gumamnya lirih, lalu melanjutkan perjalannya dengan berjalan kaki sambil menikmati malam.

……………………………………

 

Sudah jam 9 malam lebih 15 menit, baru saja Kris menyelesaikan rapatnya. Ia sedikit meregangkan lehernya ke kiri dan kanan sambil menuju ruangannya.

“akhirnya hari ini selesai juga.” Kris menghembuskan nafasnya lalu dilihat arloji ditangganya. Seketika wajahnya panik, segera ia berlari menuju mobilnya. Hanya satu yang dipikirnya saat ini ‘Lay !’

……………………………..

 

Sang kepala pelayan itu hanya memandangi Lay dari belakang, ia tau betul perasaan tuan mudanya itu sekarang. Dari tadi orang yang ditunggu tuan mudanya tidak juga muncul. Terkadang Suho lebih suka melihat Lay mengamuk dari pada diam lesu seperti itu di meja makan. Beberapa menit kemudian…

“Lay maafkan hyung. Tadi ada rapat penting yang harus ku pimpin.” Kris berusaha menjelaskan alasannya telat begitu ia sampai di meja makan.

“jeongmal?!” hanya kata itu yang keluar dari mulut Lay sekarang.

“kau belum makan?” Tanya Kris ragu sambil melihat semua makanan yang belum tersentuh sedikitpun.

“hyung tau aku yang memasak ini semua, aku bahkan berusaha memasak pasta favorit hyung.” kata Lay sambil terus menundukkan kepalanya, membuat Kris semakin merasa bersalah.

Untuk sejenak suasana ruang makan itu begitu sepi, hening sekali. Terasa atmosfir yang begitu tak mengenakan diantara mereka. Sampai akhirnya Lay berdiri dari kursinya.

“hyung, aku sudah tidak tahan lagi. Mungkin sebaiknya aku pergi dari rumah ini. Agar kau bisa lebih leluarsa dengan semua pekerjaan mu. Atau lebih baik lagi kalau aku mati. Agar kau tak punya beban lagi untuk datang ke rumah !” Lay segera berlari mengambil kunci mobilnya lalu menuju mobilnya meninggalkan Kris yang masih terpaku ditempatnya.

Akhirnya Kris tersadar begitu mendengar suara mobil Lay yang baru dinyalakan, Kris berlari menyusul Lay secepat ia bisa. Tapi gagal, begitu ia sampai didepan rumahnya. Mobil ungu favorit Lay itu sudah melaju kencang entah kemana tujuannya.

………………………..

 

Jalanan begitu sepi, tentu saja inikan area perbatasan antar kota. Hanya ada truk-truk yang melintas di tengah malam seperti ini. Bahkan beberapa mobil dan truk lainnya memutuskan istirahat dimalam yang begitu dingin. Sebentar lagi namja berkulit gelap itu melewati tikungan yang begitu gelap didepan.

Brukkk…..

Namja berkulit gelap itu tersungkur begitu saja di aspal hitam yang begitu dingin. Sedangkan orang yang didalam mobil ketakutan.

 

 

Tbc………….

Thanks a lot for reading.

keep waiting until this ff end

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s