Chingu

chingu

Title                : chingu

Author            : onfanllcouple

Main Cast       : Do Kyungsoo as Zhang Kyungsoo = D.O

Kim Jongin as Oh Jongin

Support Cast  : EXO

Genre              : friendship, brothership

Rating             : general

Length             : oneshot

HAPP…HAPPY READING!! Buing^^buing  *ijinkan author beraegyo untuk kalian*

~ D.O pov ~

1 . . .   2 . . .  3 . . .

Hari ini. .  Pagi ini. .  Saat ini. .  Semuanya harus seperti biasanya.
Saat ku buka pintu kamar ku, semua orang-orang itu harus berjejer menunggu ku. Setiap langkah ku harus diiringi bungkukkan orang-orang yang menghormati ku. Inilah aku namja yang cukup mungil memang. Tapi wajah ku tampan, bagi ku ^^. Mata ku apa lagi, selalu mempesona dan berkharisma, bulat penuh, besar sudah pasti, belo juga. Ah… senyum ku begitu memukau sehingga banyak yeoja yang akan bertekuk lutut di hadapan ku.

Aku memang anak konglomerat. Entahlah papa dan mama ku hanya mempunyai sebuah restoran yah… memang besar dan mewah sich… tapi pertanyaannya sekarang. Bagaimana bisa mereka tiba-tiba memiliki department store yang terbesar di Negara ini? Itu kata orang-orang. Ternyata restoran itu kini sudah beranak dimana-mana, bahkan sampai ke luar negeri. Sejak kapan papa dan mama ku pintar ya?? Sudahlah terlambat bagi ku untuk memperdulikan itu sekarang. Aku hanya perlu menikmatinya saja saat ini dan SETERUSNYA… tidak ada yang boleh BERUBAH !!!

Memang kebahagian yang sesungguh nya tidak benar-benar ku miliki saat ini. Sejak orang tua ku mengembangkan bisnis mereka yang sangat sukses itu sekarang. Tak ada lagi waktu yang mereka sediakan untuk ku tidak seperti yang dulu. Mungkin lebih baik keluarga ku hanya memiliki satu restoran mewah saja dari pada sekarang. Tapi kebahagian itu belum benar-benar sirna sampai gege ku satu-satunya juga meninggalkan ku.

Aku sangat bangga sekaligus ah… aku tak pernah dapat mengekspresikan kebahagian ku memiliki gege seperti nya. Meskipun ia lebih tampan dari ku, itu menurut ku saja. Masalahnya gege ku itu memiliki lesung pipit yang sangat manis menurut ku. Saat ia tersenyum aku juga otomatis akan tersenyum melihatnya. Gege yang selalu memperhatikan ku, menjaga ku. Apa pun yang ku butuhkan ia pasti akan berusaha membantu ku untuk mendapatkannya. Ingat apa pun itu.

Namanya Zhang Yizing. Gege ku itu juga sangat terkenal di kalangan yeoja karena ia pandai sekali bermain musik. Tapi kalau bernyanyi, bukannya sombong tapi aku memang lebih baik sedikit darinya. Walau aku hanya bisa menyainginya di bagian suara. Aku tak pernah sekali pun merasa iri atau cemburu terhadap semua yang dimiliki nya. Karena aku benar-benar menyayangi gege ku seperti ia sangat menyayangi ku.

Gege ku itu terlalu baik menurut ku. Ia selalu memperingatkan ku untuk tidak sombong dan berbagi kepada orang-orang yang membutuhkan. Aku selalu mengelak setiap kali gege ku mengatai aku orang sombong. Aku memang tak pernah sombong. Sungguh… Aku hanya pamer sedikit dan menikmati hasil jerih payah kedua orang tua ku. Itu saja tidak lebih atau kurang. Apa yang salah dengan menjadi diri sendiri? Memang inilah aku. Anak bungsu dari keluarga Zhang. Orang yang tampan, pintar dan kaya raya.

Gege ku selalu menasehati ku agar aku lebih rendah hati lagi. Katanya sifat ku yang sedikit pamer itu membuat aku tidak mempunyai chingu di dunia ini. Gege ku ingin sekali aku mempunyai chingu. Gege ku tidak tau saja. Bukannya tidak ada yang ingin menjadi chingu ku. Tapi aku yang tidak ingin punya satu pun dari mereka. Buat apa mempunyai chingu yang hanya menginginkan uang mu. Meskipun aku terlihat seperti orang yang tak punya hati. Untuk sesuatu yang seperti itu hati ku sangat besar.

Lagi pula aku punya gege yang selalu berada disamping ku. Itu saja sudah cukup bagi ku. Gege ku bisa menjadi chingu ku, gege ku BFF ku. Terakhir gege ku selalu memaksa ku untuk menunjukkan sisi ketulusan ku dan menyuruh ku untuk mulai terbuka dengan orang lain. Dengan begitu aku dapat memiliki chingu. Ia ingin sekali aku bisa memiliki chingu yang baik dan bisa mengerti aku sama seperti diri nya. Aku tak pernah mengerti kenapa gege ku begitu meinginginkan ku memiliki chingu. Sampai akhirnya aku mengerti apa alasannya ketika ia benar-benar pergi meninggalkan ku selamanya.

. . . . . . . . . . . .

1 . . .  2 . . .  3 . . .

Aku menghitung dalam hati ku. Kedua namja berpakaian jas abu-abu yang berdiri di sisi kanan dan kiri pintu mall terbesar se-Seoul itu akhirnya membukakan pintu utama. Mereka membungkuk, memberi hormat dan mempersilahkan aku untuk masuk.

“selamat pagi tuan muda D.O”

Ya, semua pegawai sudah berbaris rapih sesuai jabatan mereka. Aku berjalan dengan santai tanpa membalas satu pun penghormatan yang mereka lakukan. Menurut ku itu tidak penting! Oh iya aku hampir lupa. Nama ku Zhang Kyung soo tapi kenapa mereka memanggil ku D.O itu karena menurut ku nama D.O lebih keren. Determinate Obsesion. Hha…ha…

Pagi ini aku akan mengelilingi mall kami yang ada di Seoul untuk sekedar menchek saja. Orang tua ku tidak pernah memaksa ku untuk bekerja. Ini pun aku yang menginginkannya sendiri. Kata mereka itu sudah lebih dari cukup. Itu juga sudah merupakan keajaiban dunia, menurut mereka. Setelah itu aku bebas melakukan apa pun yang ku suka.

Siangnya aku bermain atau menghabiskan waktu di kamar ku. Orang tua ku akan berusaha datang dan sekedar berkumpul untuk makan siang bersama di rumah. Bagi mereka rumah sangat penting. Dan tentu saja melihat ku lebih penting dari itu. Orang tua ku memang baik apa lagi setelah kepergian gege. Mereka selalu mengkhawatirkan ku.

Malamnya diam-diam aku akan menyelinap pergi ke suatu tempat. Sebuar bar yang selalu ku kunjungi bersama gege ku. Disitu orang-orang mengenal ku sebagai namja pendiam yang suka bernyanyi untuk menghibur mereka semua. Demi sesuap nasi. Tanpa mereka ketahui bahwa aku lah yang mempunyai bar itu.

Tapi kini semua nya berubah…

1 . . .   2 . . .  3 . . .

Begitu aku membuka mata ku. Hari ini . .  pagi ini . . saat ini . .  semua nya berbeda dan tak sama lagi.

Apa ini ??
sudahlah hentikan!!
ini sudah terlalu lama!!
dokter bodoh!!
aku terjebak dalam permainan ku sendiri =_=

~ author Pov ~

Seoul Soul Hospital,

Seorang namja yang genap berumur 20 tahun diawal 2013 itu berlari sekuat tenaganya. Namja yang mengenakan seragam pasien itu berusaha kabur dari kejaran para suster dan beberapa satpam yang terus meneriakinya agar berhenti. Padahal sudah lama namja itu tak berolah raga. Kakinya terasa kaku semua tapi apa lagi yang bisa dilakukan nya sekarang. Kecuali lari dan tak ada pilihan lain.

“kalian ini bodoh atau apa?!! Sudah ku bilang ratusan.. ah… anyi, ribuan.. anyi, ah miliayaran triliunan kali!! AKU. . . BUKAN !! ORANG GILA!!!” teriak namja sambil terus berlari

“mereka bilang mereka ahli dalam bidang nya?? Apaan ?? ini yang namanya ahli?!! Membedakan yang gila dan waras pun tak bisa !!” gerutu namja mungil itu

“heuh..hhh…” nafasnya mulai tak beraturan, dadanya sesak berlari terus. Namja itu segera mengahlikan matanya ke berbagai sudut ruangan. Dimana tempat ia bisa bersembunyi pikirnya.

Happ… sllppt…

“kemana tuan muda itu sekarang??”

“kau yang paling depan! Masa kau tak melihatnya!!”

“hei,,,jangan salahkan aku!! Bukankah kita semua berlari bersama-sama mengejarnya!”

“sudahlah jangan bertengkar! Lebih baik kita mencarinya sampai ketemu sekarang. Aku yakin tuan muda D.O pasti masih di sekitar sini. Dia tak mungkin jauh-jauh dari sini. Kita harus segera menemukannya sebelum tuan Kris datang.”

“betul. Sebelum jam 9 kita harus sudah menemukan tuan muda.”

Seorang namja bertubuh tinggi berkulit rada gelap itu mengangkat badannya sedikit. Menghadapkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, memastikan orang-orang itu sudah pergi atau belum. Setelah ia rasa benar-benar aman. Namja itu baru berani menarik namja mungil yang sedari tadi berusaha mengatur nafasnya keluar dari ruangan gelap tempat penyimpanan perkakas. Tempat yang mereka jadikan tempat persembunyian tadi.

“nah,, sekarang sudah aman. Silahkan keluar..”

Dengan halus namja berkulit rada gelap itu menarik lengan si namja mungil. Menuntunnya pelan keluar. Sebelum berbalik pergi, namja berkulit gelap itu tak lupa memberikan senyumnya dan berpamitan. Setelah itu ia melanjutkan perjalanannya yang tadi. Sementara  D.O hanya bisa menatap punggung namja itu yang mulai semakin jauh. Tiba-tiba matanya bergerak ke samping kanan dan kiri. Otaknya mulai bekerja.

“hei!!” panggil D.O sebelum namja itu benar-benar menghilang dari pandangannya

“ya, ada apa?”

“kamsahamnida. Geundae,,, bolehkah aku meminta bantuan mu lagi??”

~~~~~……………………~~~~

Disebuah cafee di dekat Seoul Soul Hospital terlihat namja berkulit gelap tadi sedang duduk menghadap seorang namja mungil yang kini sudah mengganti pakaian nya menjadi pakaian biasa bukan seragam pasien lagi.

“jeongmal gamsahamnida.” Lalu namja mungil itu meneguk kopinya senang

“cheonmaneyo. Kau terlihat sangat senang ya,”

“begitulah. Aku benar-benar berhutang banyak pada mu. Mulai dari bantuan saat di rumah sakit lalu pakaian ini, sampai kopi ini juga.”

“gwenchana. Apa kau nyaman dengan baju itu?”

“ya tentu saja. Bagaimana bisa kau mempunyai baju dengan ukuran ini?”

“itu baju dongsaeng ku.”

“oh… apa kau juga seorang pasien yang mencoba kabur seperti ku?” namja mungil itu menaikkan sebelah alisnya

“ah.. aku?? Tidak… aku baru saja mengantar dongsaeng ku terapi.”

“oh… lalu mengapa kau mau menolong orang seperti ku? Kau bahkan tak mengenal ku.”

“bukankah tak salah menolong orang yang memang butuh bantuan seperti mu?”

“kau mau menolong orang gila seperti ku. Kau yakin?”

“saat aku mau berbelok ke ruangan tempat dongsaeng ku di terapi, aku tak sengaja melihat mu berlari dan berteriak ‘aku bukan orang gila!’. Saat itu juga aku melihat mata mu arahnya ke kiri, berarti kau tidak berbohong. Kau juga memiliki fokus mata yang bagus. Jadi aku tau kau benar-benar orang yang waras dan butuh pertolongan.”

“geundae, dari mana kau tau cara membedakan orang yang gila dan waras?”

“oh… kebetulan dongsaeng ku menderita sindrom asperger ya semacam autis juga, tapi tidak separah autis sich… dongsaeng ku sangat pintar tapi dia mengalami banyak hambatan dalam berkonsentrasi. Kalau diajak bicara yang tidak ia sukai matanya akan terus bergerak tak bisa diam sama sekali. Dan itulah perbedaan dongsaeng ku yang tidak normal dengan kau dan aku yang normal.”

“ah,,, begitu. Apa aku mengganggu mu? Mungkin dongsaeng mu sedang membutuhkan mu saat ini.”

“tidak masalah dongsaeng ku diterapi selama 3 jam. Menurut ku, kaulah yang sedang butuh bantuan ku saat ini. Dari mata mu, aku bisa melihat banyak sekali beban yang ingin kau bagikan. Misalnya kau dapat berbagi pada ku? Siapa tau dengan berbagi beban mu dapat berkurang.”

“jeongmal??”

Untuk sesaat namja mungil itu terliha berpikir sejenak. Matanya fokus menatap namja berkulit gelap. Mencoba melihat sosok itu lebih jauh dalam lagi. Apakah itu dapat membantu? Pikirnya. Inikah saatnya aku mencoba untuk tulus dan terbuka pada seseorang seperti yang gege katakan? Atau orang ini yang bisa disebut chingu dan akan selalu ada untuk ku seperti gege?

Mata belo itu hanya menatap namja berkulit gelap lekat-lekat. Mulutnya dikunci rapat-rapat. Dia hanya diam membisu tenggelam dalam pikirannya sendiri. Tidak tau apa yang harus diperbuatnya? Sedangkan namja berkulit gelap menatap penuh tanya pada nya. Sebenarnya apa yang sedang dipikirkan namja itu sekarang? Pikir namja berkulit gelap.

“hei… kalau kau tak mau cerita boleh aku yang bercerita sesuatu? Sudah lama sekali aku tak bercerita pada seseorang.”

“oh. . .” namja mungil itu akhirnya tersadar dari lamunannya “silahkan..”

“ehm… aku mempunyai seorang dongsaeng. Seperti yang ku bilang tadi dia penderita sindrom Asperger. Dongsaeng ku itu benar-benar pintar. Hanya saja ia terlalu terobsesi akan sesuatu kalau sedang bicara. Aku harap ia dapat mempunyai seorang chingu yang bisa mengerti dia selain aku di dunia ini. Bukan karena aku tak menyayangi dongsaeng ku. Justru aku sangat… menyayanginya. Tapi semenjak papa ku meninggal 4 tahun lalu. Aku yang harus bekerja banting tulang untuk biaya hidup kami. Apa lagi biaya terapi dongsaeng ku. Aku takut sekali saat aku harus meninggalkannya sendirian di rumah…”

Tiba-tiba namja mungil itu memotong pembicaraan namja berkulit gelap

“ memangnya mama mu dimana? Harusnya mama mu kan bisa membantu mu untuk menjaga dongsaeng mu.”

“oh . . . aku belum bercerita ya. Omma ku meninggal saat melahirkan dongsaeng ku. Faktor pemberian asi juga termasuk kedalam penyebab dongsaeng ku menderita sindrom itu. Setiap aku memiliki waktu pasti ku habiskan untuk bersama dongsaeng ku. Kini aku terlalu sibuk sampai tak punya waktu untuk mencari atau sekedar memiliki chingu seperti dulu. Lalu bagaimana dengan mu?”

“aku??”

“iya,,, kau.”

“Dulu aku mempunyai seorang gege yang sangat sayang pada ku dan selalu ada untuk ku.”

“dulu??”

“iya, 2 tahun yang lalu gege ku menjadi korban tabrak lari saat ia naik taksi dari airport Changsa.”

“oh,,, Changsa itu daerah China kan?”

“iya,, ehm . . . papa ku orang China, mama ku orang Korea. Gege ku suka sekali pulang ke Changsa.”

“oh,,, jadi kau orang China pantas memanggil mama dan papa bukan omma dan appa. Jadi gege itu siapa mu?”

“ah,,, gege itu mandarin nya untuk saudara yang lebih tua dari kita. Seperti hyung tapi aku lebih suka memanggil hyung ku gege.”

“ah,,, begitu… jesonghabnida.. aku tak mengerti mandarin berbeda dengan dongsaeng ku yang menguasai banyak bahasa. Termasuk mandarin, dia pasti sangat senang jika bisa bertemu dengan mu.”

“setelah gege ku meninggal. Aku tak punya lagi orang yang bisa ku ajak berbagi beban bersama. Memang orang tua ku selalu memberikan waktu nya untuk ku. Tapi waktu yang mereka berikan tidak sama seperti yang gege berikan pada ku.”

“lalu ?”

“untuk menarik perhatian orang tua ku. Aku berpura-pura gila, depresi karena telah kehilangan gege ku. Ternyata semua berjalan tidak sesuai dengan apa yang ku bayangkan sebelumnya. Orang tua ku benar-benar menganggap ku depresi dan memasukkan ku ke rumah sakit itu. Yang lebih parah nya lagi. Mereka menyuruh Kris si namja tiang listrik itu mengurus ku dari pada mengurus ku langsung.”

“siapa namja tiang listrik yang kau maksud? Kenapa orang tua mu bisa mempercayakan mu pada nya?”

“dia chingu gege ku. Entahlah ,,, gege ku bertemu dengannya saat ia mengembangkan restoran kami yang ada di Van Couver. Setelah itu mereka terus berhubungan dan gege ku menganggap namja tiang listrik itu BFFnya.”

“berarti dia orang yang baik.”

“bagaimana bisa kau mengatakan seperti itu? Kau tidak tau saja aku yakin dia bersekongkol dengan psikolog itu. Menjebak ku agar mau di terapi dan menjalani perawatan kejiwaan sungguhan. Kau saja tau kalau aku orang waras. Apa lagi mereka yang sudah ahli, masa mereka tidak tau??”

“lagi pula kau terus berteriak ‘aku bukan orang gila!! Aku bukan orang gila’ memangnya kau pikir orang gila pernah mengakui dia gila. Orang gila juga selalu mengatakan bahwa dia orang yang waras.”

“lalu kau mau aku berteriak ‘aku orang gila!! Aku orang gila!!’ begitu??” namja mungil itu tertawa “yang benar saja??”

“mungkin??”

“oh… jangan-jangan kau yang gila!” namja mungil itu kembali mengeryitkan dahinya

“hey… jangan tatap aku seperti itu!! Aku hanya ingin melihat mu tertawa saja… Wah… lihatlah otot-otot pipi mu mulai merenggang sekarang. Sepertinya kau sudah lama tidak tertawa lepas seperti tadi.”

“kau ini! alasan mu sungguh bagus sekali.”

“aku sempat berpikir kau itu monster tadi.” Namja berkulit gelap menatap namja mungil itu polos, layaknya anak kecil.

“boh??” namja mungil tertawa keras, tak percaya dengan apa yang didengarnya barusan

“dongsaeng ku bilang. Monster itu tak bisa tertawa. Kalau pun tertawa. Tawanya sangat seram. Ternyata kau manusia, tawa mu sangat imut. Hehe…”

“hey.. benar juga yang dongsaeng mu katakan. Dari mana dia bisa mengetahui seperti itu.”

“waktu itu chingu ku memberikannya sebuah buku tebal isinya monster semua. Walau dia membaca hanya 15 menit. Tapi seharian itu aku benar-benar kenyang dengan monster. Dongsaeng ku tak ada henti-hentinya bercerita tentang monster.”

“wow… dongsaeng mu sangat pintar ya. Berarti kalau aku butuh bantuan tentang sesuatu yang tak ku mengerti. Aku bisa memberikan bukunya pada dongsaeng mu dan dia yang akan menjelaskan semuanya pada ku.”

“itu benar sekali. Selama ini aku selalu melakukannya makanya aku bisa dapat beasiswa.”

“jadi kau juga mendapat beasiswa. Wah… kalian keturunan orang pintar ya.”

“Tapi setelah ku pikir-pikir. Sepertinya yang kau katakan itu benar. Dia memang sengaja melakukannya.”

“tuh, kan aku benar. Lalu aku harus pasrah saat aku kembali nanti ke rumah sakit.”

“sudah ku bilang dia itu pasti orang baik. Mungkin dia sengaja melakukannya agar kau mengaku bahwa sebenarnya kau tak gila dan tak perlu menjalani serangkaian pengobatan itu.”

“ehm… mungkin juga ,, tapi apa yang harus ku lakukan saat bertemu dengannya nanti. Dimana harga diri ku kalau aku langsung mengakuinya didepan tiang listrik itu?”

“harga diri mu tetap di tempatnya. Kalau kau malu mengakuinya di depan orang itu. Lalu mengapa kau tak mengakui nya langsung kepada orang tua mu. Aku yakin orang tua mu pasti mempercayai mu.”

“benar juga. Tapi…”

“ini jesonghabnida aku tak bisa memberikan banyak. Semoga ini cukup untuk mu untuk pergi menemui orang tua mu.” Namja berkulit gelap menyodorkan beberapa lembar uang pada namja mungil itu

“apa ini tidak terlalu berlebihan?”

“tidak. Karena kau memang membutuhkannya saat ini.”

“jeongmal, jeongmal kamsahamnida.”

Kedua namja itu terus berbincang-bincang tanpa mempedulikan sekitar mereka. Mulai dari hal yang tak penting sampai hal yang berguna. Terkadang mereka berbicara untuk sekedar membuat bahan tertawaan. Namja bertubuh mungil mulai tertawa lepas kembali dan menemukan diri nya yang hilang. Ia benar-benar mendapat sebuah anugerah besar hari itu. Sampai akhirnya mereka lupa waktu.

“oh,,, sudah jam 12 sekarang. Ah,,, dongsaeng ku pasti sudah menunggu lama di bangku itu.” Keluh namja berkulit gelap saat melihat jam tangannya

“jesonghabnida. Dongsaeng mu pasti sudah panik mencari mu kemana-mana saat ini.”

“ah,,, dongsaeng ku itu sangat patuh. Jadi saat ku bilang tunggu di bangku itu. Ia pasti akan terus menunggu ku di bangku itu, tak akan bergerak sedikit pun dari situ.”

“Oo… apa besok kita bisa bertemu lagi disini?”

“jesonghabnida bukannya aku tak mau tapi sore ini kami akan pergi ke Tokyo. Besok dongsaeng ku akan mengikuti Sains Internasional Olimpiade disana.”

“wahh… dongsaeng mu benar-benar pintar ya.”

“memang dia hanya beda 1 tahun dari ku tapi ia sudah menyelesaikan seluruh studinya. Aku tak bisa loncat kelas sepertinya.”

“kau juga pintar buktinya kau dapat beasiswa”

“kamsamita. Tapi aku harus pergi dulu sekarang. Aku doakan semoga kau berhasil. Ok!!”

“ehm,,, tapi selama kita berbincang dari tadi. Kau sama sekali tidak ingin bertanya siapa aku? Apa kau tak penasaran dengan identitas ku?”

“menurut ku itu privasi mu. Aku akan menghargainya kalau memang kau tak ingin mengatakannya.”

“lalu kapan kita bisa bertemu lagi?”

“entahlah . . .  biarkan saja Tuhan yang mempertemukan kita lagi nantinya.”

“kalau begitu bagaimana aku memanggil mu?”

“kau bisa memanggil ku Chingu. Sekarang kita chingu bukan?”

“chingu??” otak namja itu berpikir sejenak berusaha mencerna satu kata itu, padahal namja berkulit gelap sudah berjalan cukup jauh meninggalkannya

“annyeong chingu-ya!!”

Namja berkulit gelap itu berpamitan dari kejauhan sambil melambaikan tangannya. Namja bertubuh mungil itu tersenyum membalas namja berkulit gelap itu. Ikut melambaikan tangannya.

~~~~~……………………~~~~

“Sehun.. ah!” panggil namja berkulit gelap tadi kepada seorang namja yang sedang duduk diam di kursi yang berada dekat ruang dokter.

“Jongin hyung…” namja itu menolehkan kepalanya menuju sumber suara yang memanggilnya tadi

“bian,, hyung terlambat.” Namja berkulit gelap tadi mengelus lembut kepala namja yang cukup tinggi dan berkulit putih susu.

“gwenchana.. hyung.. na begupa ya cigeum..”

“gurae.. ayo kita makan sekarang!”

“hyung tadi aku di terapi lagi oleh euisa. Mereka bilang aku bertambah pintar.”

“oh,,, iya tentu saja. Dongsaeng hyung satu-satunya ini memang yang paling pintar sedunia.”

“bukan hyung!! Yang paling pintar sedunia itu Albert Einstein!!”

“ah,, matta hyung lupa. Jadi bagaimana perasaan mu sekarang? Apa sudah baik setelah terapi tadi?”

“ya,, terapi nya sedikit membingungkan tapi menyenangkan. Rasanya aku sedikit… sedikit…”

“sedikit… gugup?”

“ah ne,, gugup hyung… besok aku akan lomba, ya, kan!!…… bla… bla…”

Dengan penuh sabar, Jongin mendengarkan semua perkataan dongsaengnya itu satu per satu. Mencoba memahami apa yang ingin ia sampaikan dan membantunya mencari kata yang ia tidak mengerti, untuk melengkapi kalimatnya. Agar menjadi sebuah kalimat yang padu.

Malam nya setelah lelah dari perjalanan Seoul-Tokyo dengan pesawat. Akhirnya kedua namja kakak beradik itu bisa beristirahat di kamar sebuah hotel. Mereka memang sudah berbaring di ranjang yang empuk sekarang. Jongin bahkan sudah memberikan dongsaengnya itu segelas susu. Tapi ya bagi Jongin hal seperti ini memang sudah sangat biasa ia lalui. Sehun sedari tadi tidak bisa menutup mulutnya. Ia terus saja berbicara tak bisa berhenti. Jongin terus menunggu dongsaeng nya itu dengan sabar sampai akhirnya Sehun akan lelah bicara dan akhirnya tertidur.

“hyung.. malam ini kita tidur di Tokyo kan ?”

“ne, Sehunnie.”

“hyung ceritakan sesuatu sebelum tidur!!” paksa Sehun sambil memukul-mukul dada Jongin

“ah,,,iya hyung lupa bercerita pada mu. Tadi hyung terlambat menjemput mu karena hyung bertemu dengan seseorang.”

“siapa dia hyung?”

“ehm,,, dia chingu..”

“chingu?? Itu kan bukan nama! Lalu??”

“kau suka mandarin kan. Dia bisa mandarin loch… kurasa kau akan senang sekali bertemu dengannya.”

“jeongmal? … lalu… ke.. kenapa hyung tak menanyakan nama nya?… eh… harusnya aku ada disana! Kalau aku ada aku pasti akan bertanya yang lengkap!!..  ehh…” suara itu terdengar mulai lemah dan putus-putus

“itulah. Hyung harap kami bisa bertemu lagi dan gege bisa bertanya siapa namanya nanti. Ya, kan!” namja menengok ke orang yang berada disebelahnya

“Zzz….zz…”

“kau sudah tertidur rupanya.”

“Selamat malam.”

Jongin mencium dahi dongsaengnya sebelum ia juga menyusul dongsaeng nya itu ke dunia mimpi.

~~~~~……………………~~~~

Disebuah kamar yang serba biru. Terlihat sebuah piano disudut paling kiri kamar tersebut. Sebuah tv, beberapa lemari dan foto-foto dua orang namja yang menghiasi dingding kamar. Namja mungil si pemilik kamar itu memagang sebuah bingkai foto kuat-kuat lalu ia menutup matanya.

Flash back: on

“hari ini aku ga mau ke sekolah!! Gege pokoknya Kyungsoo ga mau sekolah!!” adeul berumur 5 tahun itu menatap nyolot ke arah gege nya dengan full mata belonya.

“Kyungsoo kenapa kamu ga mau sekolah? Sekolah itu menyenangkan loch! Bisa bertemu songsaengnim, bertemu chingu juga, bermain dan banyak lagi.” Yizing sebagai seorang gege berusaha menyakinkan didinya itu agar mau ke sekolah

“NGGA!! Kyungsoo ga mau!!” teriak adeul bermata belo itu

“aigoo… Kyungsoo apa yang salah dengan sekolah. Kemarin kamu mau ke sekolah kenapa sekarang ngga??” Yizing mengacak-acak rambutnya kesal melihat tingkah didinya yang sulit di atur

“gege kan lihat kemarin adeul-adeul jahat itu mengganggu ku! Jadi Kyungsoo tetep ga akan sekolah!!” teriak Kyungsoo dengan tekat penuhnya. Ia melirik sekilas ke arah gegenya yang mulai putus asa. “kecuali,,,”

“kecuali apa?” Yizing langsung tersenyum menghadap didinya, begitu terlihat sebuah harapan

“kecuali gege menemani ku ke sekolah. Jadi kalau adeul-adeul jahat itu mengganggu ku! Ada gege yang akan menolong ku.” Jawab Kyungsoo mantap

“Kyungsoo-ya, gege juga harus sekolah bagaimana bisa gege menemani mu terus-terusan. Gege juga punya kebutuhan yang harus gege penuhi sendiri. Begitu juga kamu. Contohnya sekolah. Kamu harus menjalani sekolah mu sendiri didi.”

“kalau begitu Kyungsoo TETEP GA MAU SEKOLAH !!! hiks… hiks… hiks…” setelah berteriak ia langsung menangis ke ranjangnya memeluk sebuah boneka pororo kesukaannya.

“ehm… sudahlah jangan menangis lagi didi.” Yizing menghampiri Kyungsoo, ikut berbaring di ranjang didinya itu. “begini saja, gege punya sebuah magic untuk mu.”

“magic?? Magic apa??” Kyungsoo segera menghapus air matanya dan segera berpaling menghadap gegenya

“sekarang kau tutup mata mu.”

Kyungsoo mengikuti perintah Yizing. Ia segera menutup matanya rapat-rapat.

“ikuti gege berhitung, tapi lakukan dalam hati mu.”

“1 . . .  2 . . .  3 . . .”

“sekarang saat kau buka mata mu, maka anggaplah gege berada disamping mu seperti ini. Dunia yang kau takuti itu sekarang berubah menjadi dunia yang indah. Dan tak ada yang perlu kau takuti lagi karena gege akan selalu bersama mu. Meskipun badan gege tidak bisa selalu menemani mu. Arachi ??”

Tapi Kyungsoo belum juga membuka matanya.

“aigoo,, didi nya gege jelek sekali saat menangis.” Yizing segera melap dan membersihkan wajah didinya itu. Menyisir kembali rambut didinya yang berantakkan didepan.

“ayo kita ke sekolah sekarang!” ajak Yizing lalu ia mengangkat kedua tangan didinya. Setelah itu Kyungsoo akhirnya membuka matanya dan menganggukkan kepalanya sedikit. Ia menuruti perintah Yizing untuk pergi ke sekolah.

“Kyungsoo memang didi terbaik di dunia ini.”

Flash back : off

D.O pov

1 . . .  2 . . .  3 . . .

Jika ku buka mata ku saat ini. Gege pasti berada disamping ku, kan ! Dan aku tak perlu takut bukan ?! Dunia ini indah dan tak perlu ada yang ditakuti.

Sampai saat ini itu tak pernah berubah kan ge?

Setelah mengingat kejadian itu kembali. Akhirnya aku dapat membuka mata ku.

Ge, hari ini aku bertemu seseorang. Dia bilang dia chingu ku. Dia banyak membantu hari ini. kalau bukan karena bantuannya, aku pasti tak akan berada di ranjang ini, malam ini. Dia orang yang menyenangkan dan aku harap aku dapat bertemu lagi dengan nya. Seperti yang gege katakan, berbagi beban kepada seorang chingu ternyata menyenangkan.

Gege … aku berjanji pada mu

Nanti saat aku kembali bertemu dengan nya

Aku yang akan pertama mengenali nya dan mengenalkan diri ku pada nya

Dan saat itu juga, aku yang akan menolong nya.

Aku janji ge.

Setelah puas bercerita pada gambar gege ku. Aku meletakkan bingkai foto itu kembali disamping ranjang ku. Sehabis itu aku berdoa dan pergi menuju dunia mimpi. Siapa tau aku bisa bertemu dengan gege ku disana.

~~~~~……………………~~~~

~ author pov ~

Setelah beberapa bulan berlalu akhirnya Jongin kembali bekerja pagi ini. Hari ini adalah hari pertama nya bekerja jadi tidak boleh terlambat. Pagi-pagi ia bangun pelan-pelan, jangan sampai ia membangunkan Sehun. Setelah itu ia menyelinap keluar kamarnya langsung menuju dapur. Mengambil beberapa bahan makanan di kulkas, mencucinya, memotong-motong, menyatukan bahan-bahan makanan itu didalam wajan, diatas api. Jadilah beberapa makanan yang langsung ia hidangkan di meja makan.

Selesai memasak ia segera mandi bersiap-siap menuju tempat kerjanya yang baru. Ia harus kembali bekerja setelah tabungannya habis. Pelan-pelan ia membangunkan dongsaengnya Sehun. Menunggui dongsaengnya itu mandi, membantu nya memilihkan pakaian yang cocok. Sehabis itu barulah mereka sarapan bersama.

“Sehun. Hyung harus pergi bekerja lagi hari ini. Kau jaga rumah ya, jangan pergi kemana-mana! Jangan buka pintu rumah kecuali hyung yang datang! Arachi …”

“hyung hari ini Sehun sendirian lagi..”

“nanti kalau hyung dapat jam makan siang lama. Hyung akan berlari ke sini menemani Sehun makan. Ingat kalau ada apa-apa Sehun harus langsung telpon hyung ya!” Jongin mengelus rambut Sehun lembut lalu mencium dahi dongsaengnya itu. Setelah itu ia pergi ke tempat kerja barunya.

~~~~~……………………~~~~

“ingat kau harus hati-hati pada direktur kita. Beberapa bulan yang lalu ia mengalami gangguan jiwa. Dan hari ini adalah hari pertama ia kembali kerja. Ku peringatkan ya. Dulu sebelum tuan muda masuk rsj, dia itu orang yang sombong, galak dan berlaku sesuka hatinya. Dan kau bayangkan saja setelah ia keluar dari rsj. Pasti lebih parah lagi! Jadi ku katakan lagi pada mu. Hati-hati!!”

“algeseummita sunbaenim.”

Setelah mendengar penjelasan singkat dari atasannya ia segera memberikan hormat pada yeoja yang lebih tua dari nya itu. Lalu ia berbaris sesuai jabatannya menunggu kedatangan tuan muda yang barusan dibicarakan sunbaenimnya itu.

~~~~~……………………~~~~

~ D.O pov ~

1 . . .   2 . . .  3 . . .

Hari ini. .  Pagi ini. .  Saat ini. .  Semuanya kembali seperti semula.
Kedua namja yang berpakaian jas abu-abu itu langsung membukakan pintu utama mall tempat ku bekerja begitu dilihatnya aku turun dari mobil ku. Kali ini aku sendiri yang menyetir mobil ku. Begitu masuk aku langsung disambut hangat semua pegawai ku.

“selamat pagi tuan muda.”

Mereka semua berbaris rapih seperti biasa sesuai dengan urutan jabatan mereka. Setiap satu langkah mereka menunduk memberikan hormat pada ku. Tidak ada yang berani menatap ku duluan sebelum aku yang menatap mereka. Namja bertubuh tinggi itu terlihat tidak asing bagi ku. Aku melangkah maju mendekatinya sampai akhirnya ia mengbungkuk dan aku malah diam di tempat ku.

“annyeong chingu-ya”

Sapa ku pada namja yang tak asing itu. Ia langsung mengangkat kepalanya begitu mendengar suara ku.

“choneun Zhang Kyungsoo ibnida…”

“choneun Oh Jongin ibnida…”

Aku menepati janji ku kan gege? Kau melihatnya kan!!

End………

OMG !!! aku tak percaya aku menyelesaikannya. Ff dadakan beserta typho dimana-mana. Ini karena kekesalan ku dengan komentar yang amat sedikit di ff terakhir yang aku kirim.
AYO yang KaiD.O shipper seperti author komen ya… hehe^^

Satu pemikiran pada “Chingu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s